Jumat, 24 Oktober 2014

The Darkest Minds

Harga :  Rp89,900

Penulis :  Alexandra Bracken

Penerbit :  Fantasious

Code :  978-602-0900-05-6

Halaman :  592

Ukuran :  135 x 200 mm

Berat :  500 gram

Bahasa :  Indonesia









Sinopsis :

Ketika Ruby bangun pada ulang tahunnya yang kesepuluh, sesuatu tentang dirinya telah berubah. Sesuatu yang cukup mengkhawatirkan untuk membuat orangtuanya mengunci dirinya di garasi dan menelepon polisi. Sesuatu yang membuat dirinya dikirim ke Thurmond, kamp rehabilitasi milik pemerintah yang kejam. Dia mungkin telah selamat dari penyakit misterius yang membunuh sebagian besar anak-anak Amerika, tapi dia dan anak-anak lainnya harus berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih buruk: kemampuan menakutkan yang tidak dapat mereka kendalikan. Sekarang, saat berumur enam belas, Ruby termasuk salah satu orang yang memiliki kemampuan paling berbahaya.
Ketika kebenaran terungkap, Ruby susah payah meloloskan diri dari Thurmond. Sekarang dia dalam pelarian, putus asa mencoba menemukan satu tempat yang aman untuk anak-anak yang tersisa seperti dirinya—East River. Dia bergabung dengan sekelompok anak yang lolos dari kamp mereka sendiri. Liam, pemimpin mereka yang berani, sangat menyukai Ruby.Tapi tak peduli betapa dia menginginkan cowok itu, Ruby tidak bisa mengambil risiko berdekatan dengannya. Tidak setelah apa yang terjadi pada orangtuanya.
Ketika mereka tiba di East River, tempat itu tidak seperti apa yang dibayangkan, yang paling misterius adalah pemimpinnya. Tapi ada kekuatan lain yang bekerja, orang-orang yang tidak akan berhenti untuk menggunakan Ruby, dalam perjuangan mereka melawan pemerintah. Ruby akan dihadapkan dengan pilihan yang buruk, yang mungkin berarti menyerahkan satu-satunya kesempatan dia untuk sebuah kehidupan yang layak.


– *O* –



Semacam virus mematikan–tapi tentu saja itu bukan virus, ah, entah apapun itu menyebar diantara anak-anak usia delapan hingga lima belas tahun. Kematian mendadak terjadi pada anak-anak tersebut di seluruh Amerika. Mereka yang bertahan dan hidup dimasukkan ke kamp-kamp rehabilitasi yang lebih seperti penjara. Mereka dikelompokkan menjadi lima warna: hijau, biru, kuning, oranye dan merah. Warna hijau dan biru dibiarkan berkeliaran dengan bebas di dalam pusat rehabilitasi. Sedangkan tangan dan kaki anak-anak yang diberi warna merah, kuning dan oranye dirantai, dengan tambahan berangus untuk oranye (kalau mau yang keren coba bayangin masker si Bane di Batman The Dark Knight Rises, tapi bukan, yah, itu selongsong penutup yang dipakai untuk menutup moncong anjing)..

Ruby baru berusia sepuluh tahun lebih sehari, saat ia datang ke kamp rehabilitasi bernama Thurmond. Bayangkan teror yang dihadapi oleh anak sekecil itu, mulai dari kematian mendadak teman sekelas Ruby yang terjadi tepat di depan matanya saat makan siang. Ulang tahunnya yang tak pernah dirayakan, bahkan ia malah dikirim ketempat asing menakutkan hanya dengan piyama batman. Selama enam tahun, Ruby hidup dalam ketakutan akan dirinya sendiri dan hak asasinya sebagai seorang anak terpenjara bersama fisiknya di Thurmond. Jiwanya mati secara perlahan, hingga suatu hari ia akhirnya diberikan pilihan. Tetap di Thurmond dan mati, atau pergi dengan risiko mati.

Oke cukup sampai disana :) nanti malah dituduh spoiler kan gawat hehe. So, kita bahas karakter-karakter inti di buku ini saja ya.

Ruby, seperti yang sudah dijelaskan di atas, semuda itu sudah mendapat trauma mental dengan bertubi-tubi namun dia tetap bertahan. Harus diakui, instingnya untuk bertahan hiduplah yang menuntun pembaca ke kisah-kisah selanjutnya dalam buku ini. Ruby semakin berkembang dari bab ke bab, di akhir cerita Ruby mengambil keputusan untuk berkorban demi orang-orang yang dia sayangi. Jujur, bagian yang paling saya sukai adalah bab terakhir, saat dimana Ruby menjadi heroine sesungguhnya, sampai nangis saking terenyuhnya.

Liam, bayangin aja cowo pirang bermata biru dengan bahu bidang dan senyum yang bikin lumer, duhh kombinasi melumpuhkan ditambah dengan sapaan ‘hi, darlin’-nya. Liam orang yang gampang bergaul dan mudah percaya karena menurut Chubs, Liam adalah orang yang selalu mencari sisi positif dari setiap orang. Dalam kelompoknya, Liam adalah pemimpin, kakak besar, motivator, pelindung dan orang yang paling dikhawatirkan karena sering menerjang bahaya sendirian hanya agar anggotanya aman. Bisa dibilang kalau Liam benar-benar tokoh fantasi dengan ciri dan sifat-sifat sempurna: ganteng, tinggi, tegap, ramah, baik hati, pengertian, penuh kasih sayang, ceria, peduli dengan keselamatan dan perasaan orang lain.

Zu, berusia sebelas tahun dan tidak mau berbicara dengan siapapun. Tidak diceritakan kenapa Zu tidak mau membuka suaranya, hanya perkiraan bahwa itu kemungkinan akibat trauma yang dialami oleh Zu. Zu adalah anak perempuan manis keturunan Jepang dengan potongan rambut pendek seperti anak lelaki, menyukai benda-benda imut dan cantik berwarna pink. Awalnya Zu tidak mau memiliki benda-benda manis tersebut, menurut Ruby itu karena Zu merasa tidak pantas mengenakannya. Entah kejadian mengerikan macam apa yang pernah terjadi pada Zu.

Chubs, tidak ia tidak gemuk, ini hanya panggilan yang diberikan Liam untuknya, tapi menurut Liam sebutannya itu ia berikan karena Chubs terlihat lebih gemuk di antara anak-anak lain di kamp rehabilitasi. Kebalikan dari Liam, Chubs adalah tokoh realis yang sinis dan penuh curiga, dia menutup diri terhadap orang-orang baru. Bahkan Chubs membenci Ruby pada awal pertemuan mereka hingga Ruby dapat membuktikan diri bahwa ia tidak akan mencelakakan kelompok kecil mereka. Tentu saja sikap defensifnya ini diperlukan untuk mengimbangi sikap terbuka Liam. Chubs setia pada orang-orang yang dia percaya dan sayangi. Tanpa sikap permusuhan dari Chubs buku ini akan kurang berbumbu ahaha love this unfriendly kid *ditusuk jarum sama Chubs.

Secara keseluruhan ceritanya mudah untuk diikuti, apalagi sebentar lagi buku ini akan dijadikan film layar lebar. Tapi jujur saja, terasa agak membosankan di seperempat awal hingga pertengahan buku, membosankan yang bikin penasaran. Alurnya lambat tapi habis dibaca dalam waktu dua malam ahahaha apa sih. Entah kenapa jadi terbayang film How I Live Now yang dibintangi oleh Saoirse Ronan, mungkin karena insting bertahan hidup Daisy dan keinginannya untuk melindungi sepupu-sepupunya itu ya? Nah saat bertemu Gray yang terbayang malahan Sang Kelam dari buku Shadow and Bone, sebentar untuk para penggemar The Darkling ;) maksudnya adalah cara Gray mendekati Ruby, hampir sama dengan cara Darkling mendekati Alina. Penuh pesona dan kekaguman, yah begitulah, judulnya saja pikiran terkelam ya, jadi pastinya ada kegelapan yang mengintip disana ahahaha apa hayooo.

Pokoknya bagian terbaik adalah epilog yang membuat kita berharap di buku keduanya, beberapa detail yang terlewat di buku pertama akan dijelaskan disana. Seperti, apakah penyakit mematikan itu hanya terjadi pada anak-anak di Amerika saja atau terjadi juga di seluruh dunia, ada tembok pemisah di perbatasan untuk menghalangi mereka yang masuk dan yang akan keluar. Membuat kita menebak-nebak apa yang kemudian terjadi pada Ruby, Liam, Zu dan Chubs yang katakan saja, terpisah satu sama lain. Okay, rating untuk buku ini tiga dari lima bintang, karena masih berharap buku keduanya lebih seru dan menarik dari buku pertamanya.

“All the world will be your enemy, Prince with a Thousand Enemies, and whenever they catch you, they will kill you. But first they must catch you, digger, listener, runner, prince with the swift warning. Be cunning and full of tricks and your people shall never be destroyed.”  – Richard Adams, Watership Down

Jumat, 22 Agustus 2014

Fenster Zum Sommer





Festival film German Cinema yang ketiga dibuka dengan manis oleh pemutaran film Fenster Zum Sommer yang berarti Summer Window pada tanggal 22 Agustus 2014 di Epicentrum XXI Jakarta. Film ini bercerita tentang seorang wanita bernama Juliane (Nina Hoss) yang mengalami perjalanan waktu kembali ke saat sebelum ia bertemu dengan kekasihnya August (Mark Waschke), dan sebelum kecelakaan tragis yang menyebabkan kematian sahabat Juliane yang bernama Emily (Fritzi Haberlandt).

Yang paling menarik perhatian saya di film ini adalah karakter Otto yang diperankan oleh Lasse Stadelmann. Otto adalah anak laki-laki Emily yang berumur tujuh tahun. Uniknya tokoh Otto tidak dimunculkan pada saat - kita sebut saja - siklus pertama kehidupan Juliane, Otto muncul di layar pada siklus kehidupan Juliane yang kedua - yaitu saat Juliane mengulangi kembali waktu yang pernah ia jalani sebelumnya. Karena panik dengan kejadian ajaib yang dialaminya, Juliane bercerita pada kekasihnya pada saat itu, Philipp (Lars Eidinger), bahwa ia sudah pernah menjalani semua ini. 

Ia bahkan bercerita pada Otto bahwa ia pernah melompati waktu kembali ke masa lalu, Otto pun bertanya apa yang dilakukan oleh Juliane saat tahu dirinya telah kembali ke waktu yang lampau. Juliane menjawab bahwa ia takut harus menjalani semua kejadian yang pernah ia alami sebelumnya. Otto kemudian berkata bahwa Juliane tidak harus menjalani semua dengan cara yang sama, ia bisa melakukannya dengan cara berbeda. Apalagi Juliane telah tahu kejadian masa depan, maka ia pun bisa merubah kejadian buruk yang akan terjadi di kemudian hari.

Film ini mengangkat tema takdir, segala kejadian yang sudah ditetapkan oleh Tuhan tidak dapat dirubah atau dicegah oleh manusia. Di film ini, Juliane pernah berkata bahwa ia telah melakukan kesalahan, oleh karena itu ia diminta untuk mengulangi kembali kehidupannya. Secara pribadi saya lebih suka berpikir bahwa kesalahan itu adalah Otto. Pada siklus pertama, Juliane tidak pernah dekat dengan Otto karena ia memang tidak suka dengan anak kecil dan tidak pernah mau mempunyai seorang anak. Saat Emily meninggal dunia, dimanakah Otto berada dan siapa yang mengasuhnya? Hal ini bahkan tidak pernah dijelaskan di film dan di buku (menurut perkataan Fritzi yang telah membaca bukunya). Dan ketika Juliane menjalani siklus keduanya, ia menjadi dekat dengan Otto, bahkan mengajak Otto untuk bertemu dengan kakek Juliane di Finlandia. Kematian Emily memang tidak dapat dihindarkan, tapi saya bisa bernapas lega di akhir cerita. Apabila di siklus pertama dapat dipastikan bahwa Juliane berakhir bahagia bersama August. Maka di siklus kedua ini, Juliane berakhir bahagia bersama August, dan juga Otto.

Everyone deserve to be happy, and children deserve to be happy more than the adults.

Jumat, 25 April 2014

Hush, hush



 
Judul Buku : Hush, hush
Penulis : Becca Fitzpatrick
Penerbit : Ufuk Press
ISBN : 9786028224659
Halaman : 488 halaman
Penerjemah : Leinovar Bahfein
Desain sampul : Lucy Ruth Cummins
Rating: 3,5 out of 5 stars








Bagaimana perasaan kalian kalau sekelas dengan cowok ala model jins Levi’s? Kalau aku sih pastinya gak akan konsen sama pelajaran karena fokus mandangin dia dari kursi belakang xixi

Lain halnya dengan Nora Grey yang selalu fokus terhadap pelajaran di sekolah dan tidak pernah tertarik ataupun memikirkan cowok tertentu. Namun Patch membuatnya terhanyut dengan cara yang belum pernah dirasakannya, seolah ada besi magnet di antara mereka.

Patch Cipriano, memiliki fisik mengagumkan, seksi, macho, rambut dan mata hitam dengan senyum merayu yang mengundang bahaya. Di sisi lain, Patch adalah faktor X, dia tidak bisa dipahami, menakutkan  dan misterius. Kedatangannya tidak jauh berbeda dari awan yang menutup matahari, perlahan menggelapkan lanskap, membawa pertanda badai akan turun.

                || “Kau membuatku takut, dan aku tak yakin apakah kau baik untukku.”

                || “Aku bisa mengubah pikiranmu.”

Banyak kejadian aneh yang terjadi semenjak Patch menjadi partner Biologi Nora yang baru. Nora mengalami kejadian-kejadian mengerikan dan beberapa kali percobaan pembunuhan. Seseorang mengincar nyawanya, tapi untuk apa dan oleh siapa? Nora pun melakukan penyelidikan dan semua bukti mengarah kepada Patch sebagai pelaku teror tersebut.

|| “Aku tak akan membunuhmu, Nora. Aku tak membunuh orang yang penting buatku. Dan kau yang teratas.”

Dengan nyawanya sendiri sebagai taruhannya, siapa yang harus Nora percaya? Patch yang memikat namun berbahaya dan punya banyak rahasia. Atau orang-orang di sekitar Nora yang memperingatkan dirinya agar menjauh dari Patch.

Di bagian prolog, pembaca di ajak ke sebuah desa di Prancis tahun 1565. Seorang pemuda diberitahu bahwa ia adalah Nephilim, ras percampuran antara malaikat terbuang dan seorang manusia. Dan cerita pun beralih ke Coldwater, Maine ( USA ) pada masa sekarang.

Nora dan Vee Sky, dua sahabat yang bertolak belakang antara sifat dan fisik mereka masing-masing. Merasa bahwa ada ikatan tak kasat mata antara mereka dan bersumpah untuk menjaga ikatan tersebut seumur hidup. Sama-sama bertugas untuk eZine, semacam majalah atau koran sekolah, namun tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai  eZine ini, dan saya pun mengambil kesimpulan sendiri bahwa eZine adalah sebuah blog harian di website sekolah.

Keberadaan Patch sendiri membawa alur cerita ke kisah cinta remaja di masa sekolah. Seorang cowok yang melakukan pendekatan dan misteriusnya tahu segala hal tentang Nora. Dikarenakan tugas Biologi dan kecurigaan Nora bahwa Patch membuntuti dirinya, Nora pun mulai melakukan beberapa penyelidikan. Dari mendatangi tempat bermain biliar dan poker, menggunakan penyamaran untuk mewawancarai rekan kerja Patch, sampai menyelinap ke ruang arsip sekolah untuk mendapatkan informasi tentang Patch.

Cerita berubah menjadi thriller saat sosok bertopeng ski muncul meneror Nora dan menyerang Vee. Nora berusaha mengungkap sosok dibalik topeng ski tersebut. Belum lagi penembakan terhadap seorang wanita tua yang memakai jaket dan topi Nora. Nyawa Nora terancam, siapa Patch sebenarnya dan mengapa dia mendekati Nora pun terungkap.

Inti dari cerita ini adalah pengorbanan, baik Patch maupun Nora masing-masing mengorbankan hal terpenting dalam hidup mereka, mengesampingkan diri sendiri dan memikirkan kebahagian orang yang paling berarti bagi mereka.

                || “Kalau aku mengorbankan darahku, kau akan mati.”

                || “Apa gunanya tubuh kalau aku tak bisa memilikimu.” 

Overall ceritanya seru dan aku suka banget sama tokoh Patch :) kelam, seksi, menggoda sekaligus berbahaya. Dan cara Patch pedekate sama Nora itu loh yang bikin burung-burung merpati mengepak-ngepakkan sayapnya dihatiku #eaa. Gimana ngga coba, bayangkan saja kalau kamu terkunci di toliet wanita dengan cowok macam Patch. Nih komentar seorang wanita tua kepada Nora setelah melihat Patch keluar dari toilet terkunci itu :


Sayang, kelihatannya dia licin seperti sabun. Seorang gadis akan berbusa-busa dengan sabun seperti itu.”

Tuh kan :3 cewek mana yang gak akan lumer dengan pesona Patch 'teehee'. Gak sabar untuk baca lanjutannya – Crescendo, karena Becca masih menyisakan pertanyaan besar. Bolehkah seorang malaikat mencintai manusia yang dilindunginya? Dan apakah Patch bisa lebih seksi lagi dari seri pertama ini *pikiran melayang kemana-mana.
 

Jumat, 21 Februari 2014

Jakarta, 22 Oktober 2013



Aku kehilangan rumahku, kehilangan tumpuan hidupku
Aku terombang-ambing sendirian di dunia tanpa dia yang biasanya mendampingi
Aku kesepian tanpa dia yang biasanya selalu ada
Aku mengambang tanpa dia yang biasanya menjadi jangkar
Aku hampa tanpa dia yang biasa mengisi keseharianku

Kini aku tak punya rumah, tempatku pulang dan berkeluh kesah
Kini aku kehilangan sahabat sejati yang mengerti aku lebih dari diriku sendiri
Kini aku kehilangan teman untuk menangis dan tertawa bersama
Kini tak ada yang menyambut hangat diriku dalam sebuah pelukan tanpa pamrih
Kini aku harus berjalan sendiri tanpa ada yang menggandeng dan mendorongku untuk tetap maju

Selamat jalan Ibu, kau segalanya bagiku
Terima kasih untuk segala yang telah kau lakukan untukku
Maafkan anakmu yang selalu meminta lebih tetapi memberi kurang padamu
Kini ku hanya mencoba bertahan tanpamu, karena selama ini kaulah arti hidupku
Doakan anakmu ini sekali lagi Ibu, untuk dapat berdiri menghadapi dunia tanpa bimbinganmu