Senin, 05 Januari 2015

Romeo Oh Romeo




Diikutkan dalam kontes fanfic The Chronicles of Audy Penerbit Haru




Pada pertemuan pertama Audy dan Regan, Regan menyangka bahwa Audy adalah salah satu ‘korban’ Romeo yang datang untuk meminta pertanggungjawaban. Taukah kalian, mengapa Regan menganggap perempuan yang datang mengetuk pintu rumah 4R kemudian lari hingga lututnya membentur jalan masuk adalah kesalahan Romeo? Jadi inilah asal mula kisah para korban tersebut.

---

Keadaan rumah menjadi sepi saat Rex dan Mas Regan masing-masing pergi ke sekolah dan kantor. Yah, tidak terlalu sepi sih, malah bisa dibilang berisik berkat tingkah Rafa yang memukul-mukulkan sendoknya ke meja makan, sambil mengoceh mam-mam-mmam dan cengar-cengir tanpa ada rasa bersalah telah menumpahkan makanan yang mengotori meja dan lantai.

“Rafa, Mas nyerah deh. Kamu makan yang benar dong, kalau nanti Mas Regan pulang bisa-bisa Mas Romeo yang dimarahin karena kamu makannya enggak dihabisin kayak gitu. Belum lagi kalau Rex pulang dan liat makanan yang kamu buang-buang. Aduh Rafa, bisa gawat nih kelangsungan hidup Mas-mu yang satu ini.” Romeo yang sedari tadi berusaha membujuk Rafa yang masih bayi untuk makan sendiri dan menghabiskan makanannya, kini menggelosor di meja makan melihat kelakuan Rafa yang hanya cengengesan sambil menghambur-hamburkan makanan yang dibuatkan oleh Rex.

Berhubung Romeo tidak perlu pergi ke kampus karena hanya tinggal skripsi saja semester ini, dan hari ini kebetulan tidak ada jadwal bimbingan. Jadi disinilah ia, menghadapi bayi dan langsung melambaikan bendera putih pada kamera. Ketika gebukan sendok Rafa pada meja makan semakin tak beraturan iramanya, dan ketika itu juga Romeo mulai meratapi kemalangannya sambil mengadu pada roh Mama, saat itu pula pintu rumah diketuk beberapa kali.

“Gawat nih Rafa, aduh Mas mesti gimana nih!” Menganggap bahwa ketukan tersebut menandakan kepulangan Regan atau Rex, Romeo seketika itu juga dilanda panik. “Eh, tapi, kalau itu mereka buat apa pakai ketuk pintu segala? Ini pasti bukan Rex atau Mas Regan. Iya Kan, Rafa.” Setelah mencubit pipi tembam Rafa, Romeo pun berjalan santai menuju pintu.

Pintu pun terbuka dan disana berdirilah seorang ibu dengan daster bunga-bunga dan jilbab langsung pakai, “Mas Regan, ya?” Tanya ibu entah-siapa-namanya-tapi-pernah-lihat-dia-ngobrol-sama-Mama.

“Eh, bukan Bu, saya Romeo adiknya Mas Regan.” Jawab Romeo sambil menebar senyum ala iklan pasta gigi.

“Oh, Mas Romeo yang anak kedua itu ya.” Kata ibu itu sambil manggut-manggut. “Mas-nya sendirian aja toh dirumah? Ini Ibu bawain lauk buat Mas-nya sama adek-adek. Mas-nya kan dirumah laki-laki semua toh, jadi Ibu sengaja masakin buat Mas-nya ini loh.” Ibu-entah-siapa-namanya-tapi-pernah-lihat-dia-ngobrol-sama-Mama-dan-ternyata-baik-banget-bawain-makanan itu menyodorkan rantang empat susun yang menguarkan bau harum masakan. Dengan senang hati Romeo pun menerima rantang tersebut.

“Terima kasih ya Bu, ini dari baunya aja udah enak banget loh Bu,” Romeo tidak kuasa menahan cengiran bahagianya. Karena tidak terlalu bernafsu dengan sayur bayam yang dimasak Rex untuk mereka semua. Momen menghidu aroma surgawi itu terganggu oleh raungan Rafa dari dalam rumah.

“Owalah itu suara Adeknya toh, kenapa kok nangisnya sampe begitu.” Dan tanpa diundang Ibu itu pun menerjang masuk ke dalam rumah. “Ya ampun Gusti, ini kok Adeknya belepotan gini sih Mas?!” Sontak saja teriakan histeris si Ibu-entah-siapa-namanya-tapi-pernah-lihat-dia-ngobrol-sama-Mama-dan-ternyata-baik-banget-bawain-makanan-terus-main-nyelonong-kerumah-orang membuat tangisan Rafael makin menjadi-jadi.

“Mbok ya Adeknya ini disuapin yang bener toh Mas, sampe masuk hidung gini masa nasinya, piye toh Mas’e.” Ibu-entah-siapa-namanya-tapi-pernah-lihat-dia-ngobrol-sama-Mama-dan-ternyata-baik-banget-bawain-makanan-terus-main-nyelonong-kerumah-orang-dan-bikin-Rafa-nangis itu masih mengoceh soal anak laki-laki dan ngurus bayi sambil membersihkan kekacauan yang dibuat oleh Rafa.

Romeo pun akhirnya mengaku bahwa Ia membiarkan Rafa makan sendiri karena toh Rafa sudah bisa memegang sendoknya sendiri. Tapi itu malah membuat si Ibu-entah-siapa-namanya-tapi-pernah-lihat-dia-ngobrol-sama-Mama-dan-ternyata-baik-banget-bawain-makanan-terus-main-nyelonong-kerumah-orang-dan-bikin-Rafa-nangis-karena-histeris makin histeris dan berkata bahwa Rafa masih butuh bantuan untuk makan dan lain sebagainya. Maka Romeo yang seharusnya tidak ada jadwal kuliah, kini terpaksa harus mengikuti mata kuliah Rafael Bayi Yang Belum Bisa Mengurus Dirinya Sendiri.

Romeo sudah lemas mengikuti arahan-arahan dari sang Ibu-entah-siapa-namanya-tapi-pernah-lihat-dia-ngobrol-sama-Mama-dan-ternyata-baik-banget-bawain-makanan-terus-main-nyelonong-kerumah-orang-dan-bikin-Rafa-nangis-karena-histeris-setelahnya-malah-jadi-galak ketika tiba-tiba kegalakan itu berubah menjadi senyuman tersipu-sipu malu, eh?!

“Eh, ini Mas Regan toh, kok jam segini sudah pulang ya?” Tanya si Ibu-entah-siapa-namanya-tapi-pernah-lihat-dia-ngobrol-sama-Mama-dan-ternyata-baik-banget-bawain-makanan-terus-main-nyelonong-kerumah-orang-dan-bikin-Rafa-nangis-karena-histeris-setelahnya-malah-jadi-galak-lalu-tersipu-sama-Mas-Regan dengan nada super manis. Ternyata Regan pulang untuk melihat keadaan rumah, dan jarum pendek jam di dinding pun tak terasa sudah menunjuk ruang diantara angka dua belas dan satu, dengan jarum panjangnya ke angka enam.

Belum sempat Regan mengeluarkan satu kata pun, dari arah pintu terdengar suara yang menggelegar. “Bu’e! Piye toh! Pintu rumah dibiarin ngablak, air mendidih juga sampe kering di panci!” Salak Bapak-entah-siapa-pokoknya-kumisnya-kayak-Pak-Raden kepada si Ibu-entah-siapa-namanya-tapi-pernah-lihat-dia-ngobrol-sama-Mama-dan-ternyata-baik-banget-bawain-makanan-terus-main-nyelonong-kerumah-orang-dan-bikin-Rafa-nangis-karena-histeris-setelahnya-malah-jadi-galak-lalu-tersipu-sama-Mas-Regan-dan-kembali-histeris.

“Owalah iyo Pak’e! Lali aku! Niatnya tadi cuma sebentar, ampun Gusti terus komporku gimana Pak!” Dengan heboh pasangan entah siapa itu pergi meninggalkan rumah tersebut.

“Romeo..” belum sempat Regan menuntaskan kalimatnya, Romeo langsung memotong.

“Jangan tanya Mas, pokoknya Rafa aman di kamarku, udah tidur. Itu ada lauk di rantang, Mas Regan makan aja, aku mau tidur bareng Rafa.” Dan hari itu pun berlalu dengan segelintir gosip di pasar pada keesokan harinya.

---

Di hari lain, ketika Romeo diharuskan pergi ke kampus untuk bimbingan dan amat sangat tidak mungkin meninggalkan Rafa di rumah tanpa ada yang jaga.

“Duhh Rafa, Mas harus ketemu sama dosen nih, masa iya Mas bawa-bawa kamu bimbingan sih.” Romeo menatap nanar kearah Rafa yang asyik merangkak di lorong loby kampus.

“Loh, Romeo ya?” Sapa seorang cewek-yang-entah-siapa-tapi-rasanya-pernah-sekelas.

“Hai!” Hanya satu kata itu yang sanggup Romeo ucapkan ditambah senyum ala iklan pasta giginya.
               
“Turut berduka cita ya,” kata cewek-yang-entah-siapa-tapi-rasanya-pernah-sekelas-dan-ternyata-berempati dengan nada sedih.

“Iya, thanks,” jawab Romeo dan kemudian suasana canggung pun mengisi kekosongan di antara mereka.

“Eh, denger-denger kamu sekarang udah ambil skripsi ya?” Romeo hanya menjawab dengan cengiran dan anggukan kepala. Dan disanalah Rafael, berusaha berdiri dengan merambati kaki kiri Romeo sambil mengoceh pap-pap-papp-pap. “Wah, anak siapa ini, lucu banget sih!” Cewek itu berjongkok dan menyapa Rafael, lalu mendongak ke Romeo dan berkata, “anak kamu ya, Romeo?”

“Eh, bukan, ini adikku, Rafael namanya.” Jawab Romeo dengan sedikit salah tingkah.

“Oh, kamu yang jagain adikmu ya, Romeo.” Cewek-yang-entah-siapa-tapi-rasanya-pernah-sekelas-dan-ternyata-berempati-juga-ramah itu tersenyum dan senyum itu membuat wajahnya menjadi lebih cantik lagi, kemudian dia berdiri sambil menggendong Rafael. “Kamu ada bimbingan ya?” Romeo mengangguk sebagai jawaban atas dua pertanyaan tersebut. “Yaudah, Rafael aku aja yang jagain. Kamu bimbingan dulu aja, aku bawa adik kamu ke kantin ya. Habis bimbingan kamu nyusul kita kesana.”

“Eh, beneran kamu mau jagain Rafa?” tanya Romeo ke cewek-yang-entah-siapa-tapi-rasanya-pernah-sekelas-dan-ternyata-berempati-juga-ramah-dengan-senyum-manis-yang-mempercantik-wajahnya itu. “Wah, aku ketolong banget kalau kamu mau jagain Rafa. Terima kasih ya, sampai ketemu nanti di kantin ya.” Tak membuang waktu lagi, Romeo langsung melesat menaiki tangga. Ia ingin secepatnya menyelesaikan bimbingan ini, supaya bisa lebih cepat menjemput Rafa di kantin.

Nah, selesai sudah. Bimbingannya telah berjalan dengan lancar, skripsinya tidak ada masalah, bahkan Romeo sudah bisa membuat bab akhir dari skripsi tersebut. Dengan ringan Romeo melangkah menuju kantin, disanalah mereka, Rafael dengan cewek-yang-entah-siapa-tapi-rasanya-pernah-sekelas-dan-ternyata-berempati-juga-ramah-dengan-senyum-manis-yang-mempercantik-wajahnya-mempertegas-kebaikan-hatinya.

“Hai, aku dah selesai nih, makasih ya udah jagain Rafa,” Romeo sungguh-sungguh berterima kasih padanya, tapi wajah cewek itu terlihat tidak terlalu bahagia. “Eh, ada apa?”

“Romeo, kamu enggak pakein pampers ya ke Rafael?” tanya cewek-yang-entah-siapa-tapi-rasanya-pernah-sekelas-dan-ternyata-berempati-juga-ramah-dengan-senyum-manis-yang-mempercantik-wajahnya-mempertegas-kebaikan-hatinya-tolong-jangan-sedih-gitu dengan wajah hampir menangis. “Tadi pas aku gendong kesini, Rafael ngompol. Padahal aku ada kelas siang sampai sore nanti, aku enggak mungkin balik ke kost karena kostku jauh.”

“Eh, maaf ya,” Romeo menatap pasrah ke arah Rafa yang duduk nyaman di pangkuan cewek itu, bukannya berterimakasih, Ia malah mengompol. “Kamu kerumahku aja, nanti aku pinjemin baju buat kamu ganti, rumahku deket kok.”

Dan begitulah, dengan sedikit kalimat ‘tidak enak’ disana dan ‘ngerepotin’ disini, cewek itu akhirnya mau juga pergi untuk mengganti pakaian bersama Romeo dan Rafael.

“Ahaha baju sama celananya kedodoran nih Romeo, tapi gak papa masih bisa aku akalin biar keliatan gaya.” Tepat ketika si cewek-yang-entah-siapa-tapi-rasanya-pernah-sekelas-dan-ternyata-berempati-juga-ramah-dengan-senyum-manis-yang-mempercantik-wajahnya-mempertegas-kebaikan-hatinya-tolong-jangan-sedih-gitu-wow-kamu-pake-bajuku keluar dari kamar Romeo dan berkata seperti itu. Pada saat itulah Regan; yang pulang untuk mengecek keadaan rumah pada jam istirahat kantornya, muncul dari arah ruang tamu. Regan pun melihat bolak-balik antara Romeo yang duduk sambil memangku Rafael di  bangku makan dengan cewek-tak-dikenal-yang-baru-saja-keluar-dari-kamar-adikku-dengan-mengenakan-baju-si-adik.

“Eh, yaudah aku ke kampus dulu ya, buru-buru nih. Bye Romeo, bye Rafa. Saya permisi ya, Mas.” Dan cewek entah siapa itu pun pergi mengejar kelas yang akan diikutinya.

“Romeo..” belum sempat Regan menuntaskan kalimatnya, Romeo langsung memotong.

“Jangan tanya Mas, aku sama Rafa capek banget hari ini, semalem juga aku begadang bikin skripsi. Aku sama Rafa mau tidur siang dulu ya, Mas.” Dan hari itu pun berlalu dengan segelintir gosip di kampus pada keesokan harinya.


* * *
 

Minggu, 04 Januari 2015

Kenapa

Aku hanya ingin berdiri diatas kakiku sendiri
Tidakkah kau bisa melihat itu?
Aku tidak ingin bergantung pada siapapun kecuali diriku sendiri
Masih tidakkah kau menyadari hal itu?


Jadi kenapa?
Kenapa kau tidak sanggup mandiri
Lalu kenapa?
Kenapa kau mengandalkan orang lain untuk kepentinganmu sendiri

Aku mencoba hidup di dunia yang egois ini
Tidakkah kau bisa melihat itu?
Aku berusaha untuk tidak menyerah pada kerasnya hidup ini
Masih tidakkah kau menyadari hal itu?

Jadi kenapa?
Kenapa kau harus lebih egois dari hidup ini
Lalu kenapa?
Kenapa kau kurang berusaha untuk hidupmu sendiri

Bolehkah aku beristirahat?
Bolehkah aku berhenti berusaha untuk sesaat?

Karena aku hanya ingin hidup dalam damai
Karena aku hanya ingin hidup tentram
Tapi damai hanyalah ada dalam mimpi abadi
Dan ketentraman hanya ada saat kau terkubur dalam makam

Jadi biarkan aku beristirahat
Biarkan aku melepas penat

Dan kau,
Berusahalah sendiri untuk kehidupanmu
Lalu kau,
Berbanggalah atas usaha sendirimu itu



Selasa, 30 Desember 2014

Malam





Malam datang membawakanku duka
Aku pun menerimanya dengan lapang dada
Walau sesungguhnya hati ini tak rela
Namun apa daya aku tak kuasa melawannya

Malam datang menjadikanku nestapa
Tak menghalangi tumpahnya air mata
Lubang itupun kembali menganga
Meninggalkan ruang hampa

Malam datang untuk apa?
Pergilah saja kalau hanya membawa luka
Malam datang untuk apa?
Sudahlah, datang saja, aku tak akan apa-apa

Ya, aku tak akan apa-apa
Selama malam masih menawarkanku perlindungan
Ya, aku akan baik-baik saja
Selama malam masih membawaku ke peraduan

Walau sesungguhnya aku lara
Malam masih dapat membuatku lupa akan sengsara



Selasa, 25 November 2014

Tepian









Apa yang sebenarnya kulakukan di sini? Tanya batinku yang menyadarkanku akan keberadaanku kini.
“Apa yang kau lakukan di sini.” Kata sebuah suara penasaran di belakangku. Aku menoleh dan bertatap muka dengan seorang gadis kecil bermata besar. Dia menatapku dengan sorot tak terbaca.
Aku mengedikkan bahu kiriku sebagai jawabannya, kemudian kualihkan pandangan darinya. Kutundukkan wajahku untuk memastikan bahwa aku masih berpijak pada daratan. Kunaikkan pandangan perlahan menatap garis batas antara cakrawala dan lautan. Setelah hening beberapa saat akhirnya aku pun menjawab dengan kalimat, “aku sendiri pun tak tahu.”
Kali ini, aku mendengar langkah-langkah kecil berkelotak pada kerikil dan mendekat padaku. Aku menoleh kembali, mendapati gadis kecil itu telah berada di sisi kiriku, tingginya tak lebih dari sikuku, mata besarnya fokus menatap wajahku. Tatapannya membuatku resah, aku berdiri tak nyaman menatap ke kedalaman mata besarnya. Apa yang kau pikirkan tentangku, gadis kecil? Semakin lama gadis kecil itu menatapku tanpa berkata-kata, semakin dalam pula kerutan diantara alisku.
Aku tak tahan dengan eksplorasi heningnya. Ketika aku mau memprotesnya, gadis kecil itu bertanya dengan lugasnya. “Apakah kau mau membunuh dirimu sendiri di tempat ini.”
Pernyataannya membuat mulutku – yang tadinya terbuka untuk menyuarakan protesku – menutup dan membuka beberapa kali. Ada beberapa jawaban yang terbersit di pikiranku, diantaranya adalah jawaban kasar kalau itu bukan urusannya. Tapi aku memilih untuk memikirkannya.
“Kau berdiri di pinggir tebing yang paling curam, kau bahkan telah melompati pagar pembatas dan berdiri dengan bodohnya ditepian tebing. Kau berada di ambang batas kematian kalau boleh aku sebutkan, tapi kau hanya diam saja disini sejak tadi aku perhatikan. Apa yang kau tunggu.” Wajahnya datar tanpa ekspresi, suaranya stabil tanpa emosi, aku tak tahu apa yang dia lihat dariku dari kedua mata besarnya.
Fakta-fakta yang dijabarkan oleh gadis kecil itu entah kenapa membuatku merasakan serbuan perasaan malu. Keangkuhanku sebagai orang yang lebih tua darinya, pupus bersama kesadaran bahwa aku pun tak tahu apa yang saat ini sedang kulakukan. Aku mengalihkan pandangan dari matanya yang makin membesar, mungkin dia sedang berusaha membaca amukan kata di pikiranku. Kembali kutatap batas antara langit dan laut di kejauhan.
Debur ombak secara konstan menghantam bebatuan di bawah tebing, membuatku berpaling ke ujung jari kakiku. Bebatuan beragam bentuk terhampar di bawah sana, ada sebagian yang meruncing terkikis massa air garam. Bayangan tubuh yang terjatuh ke sana, tertancap ke salah satu batu yang meruncing, atau hancur sebelum mencapai batu yang datar karena beberapa kali menumbuk bebatuan tebing yang tak rata, kemudian disapu ombak menyatu dengan lautan, terpapar di benakku. Aku menatap muram pada bebatuan di bawah.
Kuarahkan kembali tatapanku ke batas cakrawala. Kini yang kudengar hanyalah debur ombak, yang anehnya menentramkan. “Aku benar-benar tak tahu apa yang membuatku melompati pagar,” dengan pelan aku mulai membuka suara.
“Aku pun tak tahu kalau aku sedang menunggu,” Kurenungkan kembali kalimatnya ‘Apa yang kau tunggu’. “Entahlah, mungkin aku menunggu angin kencang yang akan mendorongku jatuh ke bawah. Atau mungkin aku menunggu seseorang datang mempertanyakan tindakanku.” Seusai mengucapkannya, aku menoleh kembali ke tempat tadinya anak kecil itu berdiri. Dia tidak ada disana.
Dengan heran aku menoleh ke bawah. Tidak ada gelagat aneh di sana. Kemudian kuhembuskan napasku dengan lega dan penuh syukur, aku bahkan tak sadar kalau sedari tadi aku merasakan ketegangan. Kubawa kakiku menjauh dari bibir tebing, kuedarkan pandanganku ke sepanjang daerah tebing, mencari sesosok gadis kecil. Dia tak ada dimanapun.
Kulompati pembatas pagar, dan aku berdiri berpegangan pada benda mati itu. Memohon padanya agar aku tidak melompatinya kembali. Kali lain, aku ragu alam akan berbaik hati padaku. Aku kembali berdiri menatap garis batas di kejauhan, sambil mencengkram pembatasku sendiri. Walaupun aku sudah tidak berada di bibir tebing, tapi aku masih ada di pinggirnya. Aku belum bisa bergerak dari sini, belum mampu untuk menjauh. Sekali lagi aku menunggu, dengan sadar aku menunggu waktu berlalu.